Minggu, 15 Desember 2013
SURAT KEEMPAT Halo kosmo, hari ini aku bermimpi bertemu dengan mu lagi. Tapi mimpi itu terlihat sangat nyata. Mari sini mendekat, akan ku ceritakan mimpi ku ini, kau penasaran bukan? Kita berada di tempat minum cokelat kesukaan kita.... Aku sampai disana terlebih dahulu dan seperti biasa, aku memesan cokelat, tak panas dan tak memakai foam diatasnya, seperti yang biasa aku lakukan saat masih bersamamu. Sama persis. Lalu aku melihat mu datang, dan kau memberi isyarat kepadaku untuk ke atas. Ke atas mana? Ke bulan? Bodoh! Haha tidak, aku tahu kau mau bercerita di ruang hampa udara, udara AC maksudku. Baiklah kita ke atas, ke tempat seperti biasa kita duduk. Ah kau juga memesan cokelat dingin, tapi dengan foam diatasnya, aku tahu. Dan aku tahu maksud mu membeli cokelat dingin itu, agar aku bisa meminta itu dan kita bisa disini lebih lama bukan?? Baik, lupakan imajinasi bodohku. Disana, kau mulai bercerita. Tentang kau dan dia. Tentang apa yang selama ini sangat aku takutkan sampai terbawa mimpi. Aku sudah pernah bilang bukan bahwa aku sering memimpikanmu? Kalau belum, baiklah, kau tahu hal itu sekarang kan? Ya. Aku sering memimpikanmu. Kau tahu aku ini pemikir. Pemikir hal-hal yang seharusnya tidak aku pikirkan. Dengan mudahnya aku memikirkan mu dan dengan mudahkan cerita menuntut pikiran dan otakku untuk memimpikan mu. Ajaib bukan? Aku mulai bercerita kemana-mana. Baiklah, mari fokus lagi. Jadi kau bercerita dari A hingga Z tentang kau dan dia. Dari matahari masih 45 derajat menuju peraduan hingga matahari itu benar-benar kembali dan berganti malam. Kadang kau diam. Entahlah kau diam karena apa. Kadang kau hanya tersenyum. Kadang aku yang bicara banyak, lalu kau diam lagi dan menanggapi ku dengan tersenyum pula. Hah entahlah, kau selalu begitu. Membingungkan! Aku ingat, dalam mimpiku kau bertanya, “apa kau masih menyayangiku?” Itu pertanyaan bodoh, Kosmo!!! Kau bertanya tentang apa yang kau sudah tahu jawabannya?? Sekali lagi, kau bodoh!! Tentu saja, aku saat itu hanya tertunduk. Diam. Sesekali menatap mu yang kala itu menunjukkan wajah yang sangat serius. Seperti kau ingin melamarku saja. Tapi aku lupa kalau kau sudah punya pacar, jadi aku lupakan imajinasi bodoh ku yang lain itu. Jadi begini, bekas kekasih ku yang masih aku mimpikan hingga kini, Kosmomeda.... Kau tentu bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang kau tanyakan padaku. Aku yakin. Karena aku tau kau selalu bisa menebak pikiran ku. Atau mungkin kita bisa bertukar saraf seperti pada film Pacific Rim yang pernah kita tonton bersama dengan sebuah kotak besar berondong jagung rasa karamel dan 2 gelas besar soda, hingga sepertinya kau tak perlu lagi bertanya seperti itu. Aku tak bisa mencintaimu dengan sederhana sesederhana Sapardi berbicara bahwa ia mencintai orang lain itu dengan sederhana. Tidak. Tapi, kini ada yang mencintaimu dengan luar biasa juga. ia yang kini menggantikanku disana. Di kapal mu di luar angkasa sana. Tentu saja kau tak bisa mendengar cekikik tawa ku lagi, atau melihat ku senyum bahagia hingga pipi ku mengembang seperti tomat merah yang baru mau akan dipanen, kau di luar Bumi. Aku di Bumi. Kau ingat? Pulanglah ke Bumi, pulanglah ke rumah ku. Pulanglah ke pelukku kalau kau mau. Tapi, silahkan nikmati waktu mu di atas sana dengan kini yang kau cinta. Jangan pulang sebelum kau benar-benar meninggalkannya. Ini akhir dari mimpi ku. Dan aku ingat, sesaat sebelum kau pulang dan kembali ke atas sana, kau mengucap kata cinta yang belum sempat aku jawab saat itu juga.... “i love you too...” Senin, 16 Desember 2013 Satu album Sleeping With Sirens, dan lagu Tahu Diri milik Maudy Ayunda Sesaat sebelum pergi ke kampus. 08.45-09.04 Yang menanti mu kembali dari misi mu di luar angkasa sana... Senja jingga dan Magenta mu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar